Senin, 24 Oktober 2011

Bukan Kredo Bukan Juga Manifesto (Bukan Maksud Untuk Mendebat)


Dilihat dari sejarahnya manusia awalnya menulis untuk mengabadikan apa yang terjadi pada masa itu melalui gambar-gambar kemudian dengan huruf. Tempat menulispun dimulai di batu-batu yang kemudian disebut prasasti, dipelepah pohon, daun, sampai ditemukanya kertas. Inilah konsep ciptaan terhebat dalam sejarah peradaban manusia. Dengan ditemukanya konsep tulisan membolehkan manusia saling berhubung melalui tulisan.

Sekarang sudah dikenal tulisan banyak bentuknya mulai dari puisi, cerpen, sajak, syair, esai, dan lainya. Dari sekian itu terdiri dari kalimat-kalimat. Kalimat itu terdiri dari kata-kata. Kata itu terdiri dari huruf-huruf.

Huruf ialah unsur dalam sebuah tulisan abjad. Huruf dalam bahasa bertulis selalu dikaitkan dengan fonem (bunyi) dalam bahasa lisan yang bersmaan. Aksara dalam tulisan awal biasa dipanggil dengan silabogram (yang melambangkan suku kata) atau logogram (yang melambangkan perkataan atau umgkapan). Di dunia banyak sekali jenis huruf mulai dari huruf romawi, huruf kanjhi, sampai huruf hijaiyah.

Kata adalah suatu unit dari huruf-huruf membentuk dan mengandung arti. Kata dalam bahasa melayu dan Indonesia dari bahasa Sansekerta kathã yang berarti konversi, bahasa, cerita, dongeng, dan mengalami penyempitan arti semantis.

Kalimat adalah satuan linguistik yang terkecil atau lebih mudanya dapat dipahami satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Kalimat biasanya diawali dengan huruf capital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau juga tanda seru (!). Di dalalnya juga dapat disertakan tanda baca seperti koma (,), pisah (-), titik dua (:), dan lain-lain.

Aku bukan bermaksud untuk mendebat tentang teori-teori arti huruf, kata, dan kalimat yang sekarang sudah dianggap ‘mapan’. Tetapi hanya ingin berbagi pemahaman dan itu semua sangat berharga sebagai senjata. Teringat sepenggal kalimat yang pernah dituliskan Napoleon Bonaparte “Aku lebih takut pada sebuah pena daripada seribu tentara”.

Seorang yang menulis itu ibaratnya sebagai seorang Jenderal. Ia punya banyak prajurit yang tangguh yaitu huruf yang terangkai menjadi kata, kata yang terangkai menjadi kalimat, kalimat yangbersatu menjadi sebuah satu kesatuan gagasan yang utuh. Serta menjadi sesuatu yang maha dasyat. Kedasyatanya bisa sampai darah tercecer membanjiri bumi. Bisa juga membuat orang marah, ketawa, ternsenyum, benci, sebal, semangat. Itu semua tergantung dari ‘Sang Jenderal’ mengatur strategi para prajuritnya.

Lalu apa yang di tulis ’Sang Jenderal’? Tentunya banyak hal. Pada dasarnya ‘Sang Jenderal’ punya freedom of choice. ‘Sang Jenderal’ bisa menggunakan pasukanya untuk menabur sesuatu yang bermanfaat, menarik, inspiratif, dan juga aktual. ‘Sang Jenderal’ juga bisa menggunakan pasukanya untuk menyerang, merusak tatanan, membunuh karakter, menikam pribadi orang.

Mungkin beberapa ‘Jenderal’ punya keahlian sendiri dalam hal spesialisasi beberapa disiplin ilmu tertentu. Tentu hal ini sangat berbeda denganku. Kalaupun aku menjadi ‘Jendral’ tentu aku juga mengakomodir pasukanku. Ini adalah pernyataanku yang mungkin berbeda dengan ‘Jendral’ yang asli ‘Jendral’ “Saya menulis hal-hal yang umum (generalis) bukan hal-hal yang khusus (spesialis), saya menulis apa saja yang saya lihat, apa yang saya dengar, apa yang saya rasakan, baik oleh panca indra, hati, pikiran, dan jiwa”. Bukan maksud hati untuk meniru Kolomnis Mahbub Djunaedi seperti yang telah dikatakanya “Selaku penulis saya ini generalis, bukan spesialis. Saya menulis ikhwal apa saja yang lewat di depan mata. Persis tukang loak yang menjual apa saja yang bisa dipikul.”. walaupun dalam pandangan para ‘Jenderal’ saya hanya tukang loak, tapi tak apalah.

Terlepas dari itu semua ada beberapa hal yang lebih substansi yaitu ‘Sang Jenderal’ itu sendiri. ‘Sang Jenderal’ yang mengaku manusia haruslah bersikap sebagaimana manusia seutuhnya. Peran manusia di atas bumi adalah sebagai khalifah (pemimpin). Pemimpin itu bukan penguasa. Jadi ‘Sang Jenderal’ dalam mengakomodir pasukanya haruslah punya visi.

Blitar, 24 Oktober 2011