Pengalaman Cerita Horor

Author: Asrofi / Labels:

Nasib memang tidak ada yang tahu. Hari itu, saya "dikutuk" untuk menapakkan kaki di sebuah rumah sakit BUMN yang tersohor dengan pelayanannya yang adiluhung. Tugas saya sederhana: menunggu seorang kerabat. Namun, karena urusan menunggu ini memakan waktu, saya terpaksa "mengontrak" di sana sehari semalam.

Bicara soal rumah sakit, sependek ingatan saya, isinya cuma ada dua jenis manusia: yang sehat dan yang sakit. Yang sehat itu ya para pegawai dan para penjenguk yang sibuk menenteng buah jeruk. Sedangkan yang sakit, tentu saja yang sedang rebahan estetik di atas kasur.

Namun, ada satu hal yang bikin saya angkat topi. Setiap kali waktu shalat tiba, mushala di dalam rumah sakit ini langsung sigap mengumandangkan adzan. Tepat waktu, tanpa drama.

Nah, keunikan dimulai setelah adzan subuh selesai. Suasana rumah sakit modern itu mendadak berubah 180 derajat menjadi romantis khas pedesaan. Sayup-sayup terdengar lantunan syahdu bait-bait pujian berbahasa Jawa sembari menunggu makmum berkumpul.

"Wah, fix, ini rumah sakit NU kultural," gumam saya dalam hati sambil tersenyum.


Pemandangan Kontras yang Bikin Merinding

Perbedaan mencolok terjadi saat pergantian shift shalat. Pas shalat subuh, jamaahnya masih standar—hanya sekitar dua shaf. Maklum, mata masih pada 5 watt.

Tapi, begitu waktu Dzuhur tiba? Di sinilah ke-"ngeri"-an itu dimulai.

Mushala yang tadinya lowong mendadak berubah jadi seperti pasar kaget. Penuh sesak! Shafnya benar-benar rapat tanpa celah, sampai-sampai kalau ada nyamuk lewat mungkin bakal kejepit. Semua karyawan yang sedang tidak memegang tensimeter atau jarum suntik langsung tumpah ruah ke mushala, berbaur dengan para penjenguk yang tampangnya sudah kusut.

Di tengah lautan manusia itu, si marbot atau muadzin tampaknya punya selera humor yang agak tinggi. Dia memilih lagu pujian yang judulnya "Eling-eleng", sebuah mahakarya pengingat mati yang konon ditulis oleh ulama besar KH Ali Maksum Krapyak.

Melalui pengeras suara, mengalunlah suara sayu yang penuh penghayatan:

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ

Eling-eling siro manungso
Nemenono nggonmu ngaji
Mumpung durung katekanan
Malaikat juru pati

........

Yen sampun dumugi mongso
Nuli sowan Kang Kuwoso
Siang ndalu sinten nyono
Jer manungso mung sak dermo

Bulu kuduk saya langsung berdiri. Gusti... Ini kan rumah sakit! Tempat di mana taruhan hidupnya cuma dua: sembuh atau pindah alam. Di tengah suasana medis begitu, lirik “Malaikat juru pati” rasanya seperti sedang mengetuk pintu gerbang akhirat secara live.

Misteri Sang Imam yang Tak Kunjung Datang

Ketegangan makin memuncak. Shaf sudah rapi, keringat dingin mulai menetes, dan lagu pujian pengingat mati sudah diulang sampai tiga kali. Tapi anehnya, si bilal belum juga mengumandangkan iqomah. Suasana makin mencekam. Jamaah saling lirik. Karena Imam juga sudah siap.

"Ini nunggu siapa lagi? Apa nunggu Malaikat Mautnya ikutan shalat jamaah?" batin saya mulai ngawur karena kelaparan.

Semua orang berdiri terpaku seperti patung. Ketegangan di dalam mushala itu sudah mengalahkan ketegangan ruang ICU.

Tiba-tiba, dari arah pintu masuk, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa. Sesosok perempuan paruh baya dengan jas putih dokter yang khas setengah berlari memasuki mushala. Dengan sigap, beliau langsung menempati posisi pada sajadah yang sudah disiapkan di shaf perempuan.

Detik itu juga, misteri terpecahkan. Bilal langsung menyambar mikrofon dan menyerukan, "Allahu akbar, Allahu akbar..." Iqomah berkumandang.

Oalah... jebule dari tadi jamaah satu mushala rela menahan kantuk dan lapar demi menunggu sang dokter penentu kebijakan rumah sakit! Ternyata beliau tidak cuma memimpin manajemen dan keselamatan pasien, tapi juga memimpin keselamatan akhirat para manusia yang ada di rumah sakit.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil takbiratul ihram. Rumah sakit ini memang luar biasa. Ngeri-ngeri karena paket lengkap: fisiknya diobati, jiwanya langsung diingatkan mati!

Pengunjung

Cari Blog Ini

Al Faqir

Popular Posts

Mengenai Saya

Foto saya
Mengklaim diri sebagai Anak Muda NU, itulah sosok yang bernama lengkap Mohamad Asrofi. Terlibat dalam beberapa penulisan di antaranya dalam buku Antologi Kemanusiaan “Serat Duka Negeriku; Tinta Kasih Mentawai-Merapi”. Diterbitkan oleh Pena Ananda Indie Publishing (PAIP). Juga menjadi salah satu penulis dan editor dalam buku “Menjejak Jarak Menata Langkah” yang diterbitkan tahun 2011 oleh Mata Hati, Kalifa Press. Dan tahun 2015 s/d 2016 terlibat dalam penulisan buku Rekonsiliasi Kultural Tragedi 1965; Catatan Pengalaman Syarikat Indonesia

Followers

Popular Posts