Katanya bangsa ini mempunyai karakter yang tidak dipunyai bangsa lain yaitu kekeluargaan, kebersamaan, kesetia kawanan, yang diwujudkan dalam prilaku setiap hari seperti gotong royong, dan selalu menghormati orang lain. Tapi sayangnya mungkin hanya tinggal cerita indah masa lalu, karena saat ini telah kuperhatikan bangsaku sudah kehilangan identitasnya sebagai bangsa yang berkarakter.
Sikap individualisme, konsumtif, telah menjangkiti bangsaku yang besar ini. Sebenarnya bangsa ini unik, bangsaku namanya Indonesia, negaraku namanya juga Indonesia, bahasa nasionalku adalah Indonesia, dan tanah airku namanya Indonesia. Maka dapat disimpulkan bahwa negaraku, bahasaku, dan bangsaku, serta tanah airku adalah Indonesia. Seperti yang ku ketahui bangsa negara lain tidak ada yang yang seperti Indonesia. Negara Jerman bangsanya adalah bangsa Arya, Inggris adalah bangsanya adalah Angelo Sexon, Meksiko bangsanya Indian, Apalagi Amerika serikat malah bukan penduduk asli yaitu orang buangan dari kerajaan Inggris.
Dari pengalaman yang telah aku jalani ternyata karakter bangsaku mulai luntur sejak arus globalisasi mulai menggerogoti Indonesia. Globalisasi telah menampakan wajahnya dengan kesejahteraan, kemudahan, yang lebih baik tetapi lebih individualistik. Tetapi fakta berkata lain, gobalisasi ternyata telah mencabik-cabik dan meluluh lantahkan dunia tak terkecuali Indonesia. Bangsaku kini telah lupa diri. Mungkin ini bagian dari hegemoni barat yang berhasil membuat hancur mental bangsa ini.
Karakter bangsaku telah rusak, mungkinkah dapat kembali seperti dulu, atau mungkin hanya sebuah impian???.
Tetapi hari ini aku tidak pesimis lagi. Dengan penuh keyakinan ternyata masih ada karakter bangsa yang dulu besar di bagian daerah yang terpencil. Walaupun sedikit tetapi aku bersyukur masih bisa menemukan bener-benar Indonesia banget...!!!. tidak hanya dongeng, tidak hanya cerita yang berbentuk tulisan, tidak hanya angan-angan. Aku sangat bersyukur masih bisa melihat keramahan masyarakat di sini. Ingin rasanya seluruh negeri ini keadaanya seperti di sini. Baik di kota maupun di desa, penuh solidaritas, berbudaya dan kebersamaan yang tinggi.
Semakin lama hegemoni barat semakin menjadi-jadi tapi aku akan mencoba membuat harapan selalu membongkar hegemoni barat itu. Walaupun hanya kecil, tapi bagiku lebih baik dari pada tidak ada sama sekali. Kapan lagi kalau tidak mulai sekarang, dari yang terkecil dan dari diri sendiri.
Blitar, 30 Januari 2009
MASIH ADA HARAPAN UNTUK NEGERI INI
Author: Asrofi / Labels: Catatan
Pengunjung
Cari Blog Ini
Popular Posts
-
"Luwih becik nuthuk saron tinimbang nuthuk ndasmu” kata-kata ini bagi yang aktif ikut pengajinnya KH. Emha Ainun Najid atau yang leb...
-
A. Biografi K.H. Hasyim Asy’ari 1. Silsilah K.H. Hasyim Asy’ari Darah biru merupakan sebutan untuk bangsawan yaitu orang-orang yan...
-
Foto di atas sebenarnya saya tidak sendiri, walaupun gambarnya sendiri tentu ada yang memfotokan. Tentu saja itu istri tercinta yang menje...
Mengenai Saya
- Asrofi
- Mengklaim diri sebagai Anak Muda NU, itulah sosok yang bernama lengkap Mohamad Asrofi. Terlibat dalam beberapa penulisan di antaranya dalam buku Antologi Kemanusiaan “Serat Duka Negeriku; Tinta Kasih Mentawai-Merapi”. Diterbitkan oleh Pena Ananda Indie Publishing (PAIP). Juga menjadi salah satu penulis dan editor dalam buku “Menjejak Jarak Menata Langkah” yang diterbitkan tahun 2011 oleh Mata Hati, Kalifa Press. Dan tahun 2015 s/d 2016 terlibat dalam penulisan buku Rekonsiliasi Kultural Tragedi 1965; Catatan Pengalaman Syarikat Indonesia
Followers
Popular Posts
-
A. Biografi K.H. Hasyim Asy’ari 1. Silsilah K.H. Hasyim Asy’ari Darah biru merupakan sebutan untuk bangsawan yaitu orang-orang yan...
-
Syekh Said seorang salik dengan banyak murid-murid yang taat dan mencintainya, mengumpulkan semua murid dan sanak familinya untuk memberikan...
-
Gus Mus adalah sapaan akrab seorang ulama yang peduli tentang budaya karena beliau memang dikenal seorang budayawan KH. A. Mustofa Bisri. B...